}); }); Tiga Bandara Buka Akses Percepatan Parawisata Jambi | MediaLintasSumatera
Home » , , » Tiga Bandara Buka Akses Percepatan Parawisata Jambi

Tiga Bandara Buka Akses Percepatan Parawisata Jambi

Written By MediaLintasSumatera on Rabu, 15 Maret 2017 | 10.09


Presiden RI Joko Widodo Saat Peresmian Penggunaan Terminal Baru Bandara Sultahn Thaha Jambi 21 Juli 2016. Dok Pesonajambi.net.

(Matra, Jambi)-Sebagai upaya peningkatan perekonomian di Provinsi Jambi dari sektor Parawisata dan Ekonomi Kreatif, keberadaan tiga bandar udara (Bandara) di Provinsi Jambi merupakan suatu pintu atau gerbang akses yang harus memadai. Selain pengembangan Kawasan Strategis Pantai (KSP) Timur Jambi, sebagai pendukung pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Pemprov Jambi juga akan fokus mengembangkan tiga bandar udara (airport) pada 2017 dalam upaya meningkatkan perekonomian daerah dan pariwisata.

Tiga bandara di Provinsi Jambi yang akan dikembangkan itu yakni Bandara Sultan Thaha di Kota Jambi, Bandara Depati Parbo di Kabupaten Kerinci dan Bandara Bungo di Kabupaten Bungo. Bandara Sultan Thaha Jambi akan diupayakan bertaraf internasional sedangkan Bandara Bungo akan ditingkatkan fasilitas pendukungnya.

Sementara Bandara Depati Parbo Kerinci dikembangkan dalam upaya menunjang kabupaten itu sebagai pencitraan pariwisata Jambi. "Presiden sangat peduli sekali dengan pariwisata, apalagi Kerinci sudah menjadi `branding` pariwisata Jambi. Tentu untuk meningkatkan pariwisata Kerinci pengembangan infrastruktur yang paling tepat adalah bandara," kata Zumi Zola dalam suatu kesempatan.

Gubernur Jambi mengatakan bahwa dirinya sudah menghadap Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, guna berkoordinasi terkait pengembangan Sektor Perhubungan Jambi ke depan.

Dari pertemuan itu Zola mengatakan Jambi dipandang sangat potensial sekali untuk pengembangan perekonomian secara khusus pada sektor Perhubungan. 

“Pertemuan dengan Menteri Perhubungan itu menindaklanjuti pembicaraan dengan bapak Presiden beberapa waktu lalu terkait keingginannya mengembangkan bandara-bandara kecil, khususnya di Jambi," kata Zola.

Zola menjelaskan, untuk Bandara Sultan Thaha Jambi diupayakan bertaraf internasional. Itu terlihat dari rencana pembangunan dua terminal di Bandara Sulthan Thaha yang seharusnya dilakukan pada 2019, dimajukan pembangunannya tahun 2017 dan 2018 kembali dibangun lagi dua terminal. Landasan pacu (runway) dari 2.220 meter juga akan diperpanjang menjadi 2.600 meter.

“Ini langkah awal untuk menunjang Bandara Sultan Thaha Jambi menjadi bandara internasional, kita harus lengkapi persyaratannya. Di samping itu Jambi harus ada tujuan yang diinginkan para wisatawan yaitu wisata Kerinci. Dan untuk menunjang itu fasilitas bandara di sana harus dibenahi," ujarnya.

Di samping itu, sudah banyak maskapai yang bersedia terbang dari dan ke Jambi via Bandara Sultan Thaha jika semua fasilitas disiapkan. “Kita rencananya buka penerbangan Jambi-Solo, Jambi-Bandung dan Jambi-Padang. Sebab itu ini perlu dikembangkan," tegasnya.

Selain itu diupayakan adanya frekuensi penerbangan internasional, mengingat banyaknya penduduk provinsi itu berpergian ke luar negeri. Yakni ke Singapura dan Malaysia, namun selama ini melalui Bandara Batam atau Bandara Soekarno Hatta.

Zumi Zola mengatakan transportasi udara sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan perekonomian daerah. Sebab itu dirinya berharap agar penerbangan dari dan ke Jambi semakin meningkat, baik dari sisi penambahan rute maupun dari sisi penambahan frekuensi penerbangan dari yang tersedia saat ini.
Presiden RI Joko Widodo Saat Peresmian Penggunaan Terminal Baru Bandara Sultahn Thaha Jambi 21 Juli 2016. Dok Pesonajambi.net.
GM Angkasa Pura II Jambi Achmad Syahir, mengatakan saat ini pihaknya masih terus mengkaji untuk menjadikan Bandara Jambi sebagai Bandara Internasional. Namun jika untuk penambahan rute, saat ini Sultan Thaha-Surabaya dan Kualanamu-Sultan Thaha sangat potensial.

Dijelaskan, saat ini secara fasilitas dan regulasi, Bandara Sultan Thaha belum memenuhi untuk menjadi Bandara Internasional. Salah satunya belum adanya area khusus ruang tunggu internasional, dan area untuk perangkat imigrasi dan Bea Cukai.

“Rencananya 2017 ada pengembangan terminal. Kalau terminalnya sekarang hanya 12.000 m2 dan akan ada tambahan 10.000 m2 lagi. Dengan pengembangan terminal tersebut memungkinkan akan dibuka untuk penerbangan internasional," katanya.

Setelah dibangun tambahan terminal baru nanti, tinggal pihak maskapai menyampaikan pangsa pasarnya dan membuka rute serta poses lainnya. Angkasa Pura yang mengurus segala perizinan dan regulasinya.

Terkait lonjakan penumpang, Achmad mengatakan Jambi sangat bagus, dengan asumsi pada akhir 2016 ini mencapai 1,6 juta penumpang.

Dukung 'Branding' Pariwisata Gubernur Jambi Zumi Zola mengatakan bahwa pengembangan Bandara Depati Parbo di Kabupaten Kerinci harus segera dilaksanakan untuk meningkatkan akses disektor pariwisata karena Kerinci sudah ditetapkan sebagai 'branding' pariwisata Jambi.

“Pengembangan bandara tersebut harus segera dilakukan dalam mendukung pariwisata dan ekonomi Kabupaten Kerinci," katanya saat berkunjung ke Kerinci, belum lama ini. Dalam kunjungan kerjanya ke Kerinci itu, Gubernur Jambi meninjau langsung kondisi Bandara Depati Parbo yang kewenangannya di bawah Kementerian Perhubungan.

Bandara Depati Parbo Kerinci itu tinggal proses di daerah untuk perluasan landasan pacu (runway). Selanjutnya sudah jadi komitmen Kementerian Perhubungan untuk fasilitas pendukungnya. Bahkan Presiden Jokowi, kata Zola, sudah menyampaikan bahwa dirinya akan siap berkunjung ke Kerinci dan meresmikan Bandara Depati Parbo.

“Kita lihat kondisi riil dan waktu pengembangannya ke mana dan kapan, mengingat waktu dan kondisi saat ini anggaran perubahan sudah masuk. Kita inginkan pengembangan bandara ini tetap diproses, diantaranya terminal penumpang dan fasiilitas penunjang lainnya. Karena keberadaan bandara ini sangat representatif," katanya.

Bandara Depati Parbo yang saat ini memiliki landasan pacu sepanjang 1.800 meter itu sudah bisa didarati pesawat jenis ATR 72. Menurut Zumi Zola, landasan pacu dengan panjang tersebut sudah cukup, hanya saja yang perlu ditambah yakni maskapai yang membuka frekuensi penerbangan ke daerah itu.

“Tinggal maskapainya yang perlu ditambah, kalau bisa harus ada dua atau sampai tiga maskapai yang membuka rute penerbangan ke Kerinci. Ke depan Pemprov Jambi akan mencari maskapai penerbangan agar mau mengembangkan bisnisnya dengan membuka rute penerbangan ke Kabupaten Kerinci,” sebutnya.

Karena daerah Kerinci itu mempunyai potensi wisata yang luar biasa dan juga sudah ditetapkan sebagai ikonnya pariwisata Jambi, nanti saya akan mencari maskapai supaya melayani penerbangan ke Kerinci.
Bupati Kerinci Adirozal mengatakan, Pemkab Kerinci siap melakukan upaya pembebasan lahan jika Kementerian Perhubungan komitmen dalam pengembangan bandara tersebut. “Jajaran kami siap dalam pembebasan lahan untuk pengembangan bandara, jika memang itu diminta kita akan duduk bersama. Artinya dalam pembebasan lahan itu nantinya jangan sampai ada yang dirugikan," kata Adirozal.

Bandara Depati Parbo saat ini kata Bupati menjelaskan, baru ada satu maskapai penerbangan yakni Susi Air yang membuka rute penerbangan Jambi-Kerinci dan sebaliknya, dalam satu pekan hanya ada dua jadwal penerbangan yakni Selasa dan Kamis.

Karena daerah itu mempunyai potensi pariwisata dan ditambah lagi dengan kondisi yang hanya ada satu maskapai itu membuat penumpang yang akan menggunakan moda transportasi udara belum terlayani dengan baik.

“Sebelumnya memang ada maskapai Lion Group yang akan membuka rute penerbangan, namun saat ini belum terealisasi karena masih ada kajian yang belum selesai. Saat ini misalnya ada penumpang yang mau menggunakan jalur udara harus memesan jauh-jauh hari, karena itu kami berharap ada maskapai lagi yang mau membuka rute penerbangan ke Kerinci," katanya.

Sementara bandara di Kabupaten Bungo sebagai bandara perintis dengan panjang runwat 1.800 meter itu, juga diupayakan ada penambahan frekuensi penerbangan dari empat kali menjadi tujuh kali penerbangan dalam satu minggu atau setiap hari.

Penambahan frekuensi penerbangan Bandara Bungo-Jakarta didasarkan laporan bupati Bungo tentang potensi penumpang dari Bungo ke Jakarta dan sebaliknya.

Wakil Bupati Bungo, Apri mengatakan, respon masyarakat sangat positif sekali untuk dilakukan penambahan penerbangan Muara Bungo-Jakarta yang saat ini hanya empat kali dalam seminggu melalui maskapai Sriwijaya.

Disebutkannya, pertumbuhan penumpang pada bulan Agustus 2016, rata-rata jumlah penumpang datang adalah 102 orang atau 87,50 persen dari jumlah seat maksimum, dan rata-rata jumlah penumpang berangkat adalah 104 orang atau 86,67 persen dari jumlah maksimum seat.

Dengan dikembangkannya pengembangan Kawasan Strategis Pantai (KSP) Timur Jambi, sebagai pendukung pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta tiga bandara di Jambi pada 2017 diharapkan ke depan sektor perekonomian dan pariwisata Jambi dapat meningkat sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Secara terpisah, Anggota Komisi V DPR RI Dapil Provinsi Jambi H Bakri, Anggota Komisi XI DPR RI Dra Hj Elviana Msi dan Anggota DPD RI Hj Uteng mengatakan, kalau pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan mengembangkan tiga bandar udara (airport) di Provinsi Jambi sangat penting sebagai upaya meningkatkan perekonomian daerah dan pariwisata.


Mereka juga mengupayakan agar anggaran APBN bisa mengucur ke Provinsi Jambi guna mendukung pembangunan infrastruktur dan program prioritas Pemerintah Provinsi Jambi. Ketiga Senator Jambi itu juga tetap konsisten di Senayan untuk memperjuangkan Pembangunan Provinsi Jambi lebih baik. Tentunya itu harus didukung dengan koordinasi yang intens dengan Kepala Daerah Provinsi Jambi. Semoga. (Asenk Lee Saragih)
Share this article :

Posting Komentar