}); }); Warung Sarapan Pagi Sederhana, Bersih Memuaskan | MediaLintasSumatera
Home » , » Warung Sarapan Pagi Sederhana, Bersih Memuaskan

Warung Sarapan Pagi Sederhana, Bersih Memuaskan

Written By MediaLintasSumatera on Selasa, 28 Maret 2017 | 07.29





Andang pemilik Warung Kopi Padepokan Tumiris II Jalan Simpang Gereja Kotabaru Kota Jambi. Foto Asenk Lee.
 
(Matra, Jambi)-Untuk sarapan pagi di jantung Kota Jambi, atau seputaran Kotabaru Jambi, ada sebuah warung sederhana yang menyajikan menu sarapan pagi yang bergizi. Mulai dari Bubur Kacang Ijo, Mie Goreng, Mie Rebus, Nasi Goreng, Telor Setengah Matang, Ginseng Telor, Kopi Susu, Gorengan, Kue Lezat dan cocok untuk sarapan pagi.

Tempat Sarapan Pagi itu namanya Warung Kopi (Warkop) Padepokan Tumiris II yang berada di Jalan Kapten Sujono Kompleks Gereja Kotabaru atau tepatnya depan seberang Taman Remaja Kota Jambi.

Jika Anda ingin menikmati sarapan pagi bergizi, usai olahraga pagi di wilayah Gedung Olahraga (GOR) Kotabaru Jambi, tak perlu repot mencarinya. 

Sebuah Warkop Padepokan Tumiris II akan memanjakan sarapan Anda dengan sajian makanan ringan bergizi. Mulai dari bubur kacang hijau campur ketan, telur setengah matang, teh telur ginseng, indomie rebus plus, mi goreng, nasi goreng hingga ragam minuman sehat lainnya.

Lokasinya berada di simpang tiga jalan kompleks Gereja Kotabaru Jambi. Warkop Padepokan Tumiris II ini sudah buka sejak pukul 05.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Kebersihan makanan dan tempat sangat terjamin karena pengelola menjadikan kebersihan sebagai penyambut pelanggan di warkop tersebut.

Orang-orang yang sarapan pagi di Warkop Padepokan Tumiris II cukup beragam dari berbagai profesi. Mulai dari polisi, PNS, pengusaha hingga masyarakat biasa. Sajian menu yang segar, membuat pelanggan menjadikan Warkop Padepokan Tumiris II sebagai tempat sarapan paginya.

Memulai usaha sekecil apapun itu harus dengan niat yang baik dan profesional. Membuka usaha kecil menengah (UKM) tidak semata-mata dengan modal yang lumayan. 

Dengan modal pas-pasan juga bisa eksis asalkan dikelola dengan baik dan jujur. Demikian gambaran eksistensi sebuah Warung Kopi (Warkop) Padepokan Tumiris II yang berada di Jalan Kapten Sujono Kompleks Gereja Kotabaru atau tepatnya depan seberang Taman Remaja Kota Jambi.

Andang (43), pengelola Warkop Padepokan Tumiris II kepada Pesonajambi.net baru-baru ini mengatakan, dirinya memulai usahanya di Jambi sejak tahun 1991. 

Awalnya dia membuka Warkop Padepokan Tumiris I di Arizona Mayang Kota Jambi. Seiring majunya usahanya tersebut, Warkop Padepokan Tumiris I dikelola oleh abangnya Adi Sonip. 

Guna mengembangkan usaha, Andang melirik lokasi yang strategis. Simpang jalan Gereja Kotabaru Kota Jambi merupakan pilihan tempat yang tepat. Awalnya Andang bersama istrinya Acih Nurjanah (40) mengontrak lahan seluas kurang lebih 10 meter persegi milik Pesantren Sa’ad Datuddaren Seberang Kota Jambi.

“Kami menyewa lahannya saja selama 10 tahun. Namun pembayaran setiap bulan Rp 300 ribu. Atau Rp 3 juta setahun. Kalau bangunan ini kami yang bangun. Lahan ini milik Pesantren Sa’ad Datuddaren Seberang Kota Jambi. Kami buka disini karena tempatnya strategis karena dekat dengan pusat olahraga,” kata Andang.

Dulunya, lahan tersebut hanya semak-semak belukar. Namun karena lokasinya strategis, pihak Pesantren Sa’ad Datuddaren menyewakannya. Setidaknya ada empat usaha di lahan Pesantren Sa’ad Datuddaren Seberang Kota Jambi.

Omzet Rp 2 Juta Sehari

Usaha yang digeluti Andang bersama istrinya Acih Nurjanah tergolong sukses. Betapa tidak, warkop sederhana itu bisa beromzet hingga Rp 2 juta sehari.

Menurut Andang, dalam satu hari pengunjung bisa mencapai ratusan orang. Sajian favorit di Warkop Padepokan Tumiris II yakni bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, teh telur putar, teh telur ginseng dan telur ayam kampung setengah matang.

“Kalau lagi ramai telur ayam setengah matang bisa habis hingga 100 butir. Kemudian begitu juga dengan menu lainnya seperti bubur kacang. Harga bubur kacang hijau dan campur ketan hitam mulai dari harga Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu. Kemudian telur ayam setengah matang Rp 4 ribu per butir. Sementara Indomie rebus plus sayur telur Rp 8 ribu per porsi,” katanya.

Dari penjualan menu di Warkop Padepokan Tumiris II setiap harinya bisa beromzet Rp 2 juta. Omzet yang sangat besar bagi warkop sekelas Tumiris II. Suksesnya usaha yang digeluti Andang dan istrinya bukan begitu saja didapatkan. 

Mereka tetap menjaga kesantunan terhadap pelanggan. Menjaka sikap ramah tamah kepada pelanggan, serta membuat harga menu yang terjangkau. Kemudian soal kebersihan makanan dan tempat juga menjadi prioritas utama.

Kacang Hijau asal Thailand

Menurut Andang, bahan kacang hijau untuk bubur kacang hijau merupakan kacang hijau impor dari Thailand dan Australia. Dia mempercayakan pasokan kacang hijau dan kebutuhan lainnya dari Toko Ali BTN Kotabaru Jambi.

“Kami terpaksa membeli kacang hijau impor dengan harga Rp 18 ribu hingga Rp 19 ribu per kilogramnya. Pasalnya kacang hijau impor labih bersih dan kualitasnya bagus. Sementara kacang hijau lokal yang kebayakan masuk dari Kabupaten Bima Pulau Jawa, kualitasnya kurang baik. Karena banyak ditemukan bebatuan berupa tanah dan juga kacang hijau yang keropos,” kata Andang.

 Disebutkan, kalau membersihkan kacang hijau impor hanya membutuhkan waktu 5 menit. Namun kalau untuk membersihkan kacang hijau lokal butuh waktu lama hingga 30 menit. “Kacang hijau lokal sangat banyak kotoran yang hendak dipisahkan. Kemudian rasa kacang hijau lokal kurang enak. Kita bukan tak suka produk lokal, tapi kita lebih mementingkan kualitas demi kepuasan pelanggan,” ujarnya.

Selama ini stok kacang hijau untuk Warkop Padepokan Tumiris II tetap terpenuhi lewat Toko Ali BTN Kotabaru Jambi. Namun Andang tidak merinci berapa kebutuhan kacang hijau setiap minggunya. Namun menurut dia kebutuhan kacang hijau sebagai menu utama warkopnya tetap tercukupi.

Telur Ayam Kampung Asli

Warkop Padepokan Tumiris II memang betul-betul menjaga kualitas menunya. Misalnya soal telur ayam kampung. Karena Warkop Padepokan Tumiris II Kotabaru Jambi salah satu menu favorit pelanggan adalah telur ayam kampung setengah matang.

“Kalau soal telur, saya menjaga kualitas. Banyak menawarkan telur ayam kampung ke kita, namun kita tolak. Karena kita takut telur ayam kampung palsu. Karena selama ini banyak telur ayam kampung banyak yang palsu. Saya memasok telur ayam kampung dari perusahaan agen telur ayam kampung dari Palembang,” katanya.

Menurut Andang, pemasok telur ayam kampung ke warungya adalah Henry, agen resmi telur ayam kampung di Jambi. “Dia punya akta perusahaan agen resmi penyalur telur ayam kampung asli. Saya beli perbutir dengan harga Rp 2.000. Saya sudah lama berlangganan kepada Henry,” katanya.

Dalam membangun usaha warkopnya, Andang dan istrinya dibantu keponakannya Hendri. Mereka bertiga saling bantu dalam menlayani pelanggan di warkopnya tersebut. Untuk menambah omzet lain, Andang juga menyewakan sepetak kios berukuran 1,5 meter kali 2 meter untuk kios isi pulsa ulang.

Tolak Kredit Bank

Pada umumnya, para pengusaha UKM akan tergiur dengan tawaran pinjaman modal dari perbankan. Namun tidak demikian dengan Andang. Dirinya justru menolak tawaran pinjaman modal dari bank.

“Dulu ada Pak Robert Pardeda dari salah satu bank di Jambi berulang-ulang menawarkan pinjaman modal. Hingga bapak itu pensiun dan pindah ke Bandung tetap saya tolak. Banyak bank yang datang ke sini menawarkan pinjaman modal, namun saya belum tertarik. Modal saya sendiri saja masih cukup untuk usaha ini,” kata Andang.

Disebutkan, pinjaman kredit dari bank awalnya memang menggiurkan. Namun saat pembayaran cicilan sangat memberatkan. “Lagian pinjaman dana itu belum butuh untuk saat ini bagi kami. Karena untuk mengembangkan usaha ini, masih kekurangan tenaga. Kita butuh pekerja yang betul-betul jujur dan mau berusaha dengan serius dan profesional,” kata Andang.

Mampu Bangun Rumah 

Berkat usaha ini, Andang dan istrinya Acih Nurjanah bisa sekolahkan dua anaknya Abdullah Hikel Fikri (13) dan M Reza Nurrohman (10). Kemudian mereka juga sudah membangun satu unit rumah di Perumahan Pesona Kenali Kotabaru Jambi.

“Saat ini kami bisa mengguyur biaya membangun rumah sendiri. Sejak tahun 2005 silam kami tinggal di warung inilah. Namun dalam waktu tak lama kami akan memiliki rumah pribadi, tak lagi mengontrak. Syukur lah, ini berkat usaha ini,” ujar Andang.

Menjalankan usaha Warung Padepokan Tumaris II sejak 2005 menjadi salah satu bukti, kalau usaha UKM bisa sukses dan menjadi penggerak roda perekonomian keluarga. Warkop sederhana yang dikelola Andang dan istrinya, menjadi salah satu bentuk UKM yang sukses, karena tidak mengandalkan pinjaman modal dari bank  dalam menjalankan usahanya. 

Warung Padepokan Tumaris II, bisa sebagai contoh bagi penggiat UKM lainnya, agar menjalankan usahanya dengan berkesinambungan dan bisa menabanung keuntungan. Sudah sepatutnya para pelaku UKM mendapat bimbingan dari instansi terkait guna pengembangan UKM tersebut. (Matra/ Asenk Lee)


 Para pelanggan saat menikmati sarapan pagi di Warung Padepokan Tumiris II Jalan Simpang Gereja Kotabaru Kota Jambi.

 Warung Kopi Padepokan Tumiris II Jalan Simpang Gereja Kotabaru Kota Jambi.

Andang pemilik Warung Kopi Padepokan Tumiris II Jalan Simpang Gereja Kotabaru Kota Jambi saat memasak menu  pesanan pelanggan. Foto Asenk Lee Saragih


Share this article :

Posting Komentar