}); }); Festival Tari Sike Rebana dan Suling Bambu, Terobosan Pelestarian Seni Tradisional Kerinci | MediaLintasSumatera
Home » » Festival Tari Sike Rebana dan Suling Bambu, Terobosan Pelestarian Seni Tradisional Kerinci

Festival Tari Sike Rebana dan Suling Bambu, Terobosan Pelestarian Seni Tradisional Kerinci

Written By MediaLintasSumatera on Jumat, 10 November 2017 | 08.56





 Penampilan salah satu tim penari Sike Rebana pada Festival Sike Rebana dan Suling Bambu Kerinci 2017 di tepi Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Selasa (7 /11/2017). (Foto : PJN/RSM)

(Pesonajambi.net – Jambi) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kerinci, Jambi terus berupaya menyelamatkan seni music dan tari tradisional daerah itu yang belakangan ini semakin terancam punah. Salah satu upaya yang dilakukan menyelamatkan seni musi dan tari tradisional tersebut, yakni menggelar Festival Tari Sike Rebana dan musik Suling BambuKerinci 2017 di tepi Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Selasa - Rabu (7 - 8/11/2017).

Festival seni musik dan tari tradisional itu digelar dalam rangka memeriahkan  Hari Ulang Tahun (HUT) ke- 59 Kabupaten Kerinci yang jatuh pada hari Kamis (9/11/2017).

Festival seni musik dan tarian tradisional yang diikuti 16 tim tari dan musik lokal se-Kabupaten Kerinci. Untuk merangsang gairah para seniman Kerinci mengikuti festival itu, Pemkab Kerinci menyediakan hadiah total Rp 10 juta. Hadir paada pembukaan Festival Tari Sike Rebana dan Suling Bambu Kerinci tersebut, Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar dan Bupati Kerinci, Adi Rozal.

Unik dan Menarik

Bupati Kerinci, Adi Rozal pada kesempatan tersebut menjelaskan, masyarakat Kerinci dan Kota Sungaipenuh, Provinsi Jambi memiliki sejumlah musik dan tarian tradisional yang sangat unik dan menarik. Namun seni musik dan tari tradisional tersebut semakin terlupakan dan terancam punah akibat gempuran seni musik pop dan modern di tengah masyarakat saat ini. 

Seni musik dan tari Kerinci dan Sungaipenuh yang semakin tersisih oleh seni – budaya pop tersebut antara lain tari “Rangguk”, “Tauh Kerinci”, “Niti Mahligai”, “Iyo-Iyo”, “Sike Rebana” dan seni music “Suling Bambu}. Seni musik dan tari tradisional  tersebut semakin jarang dipertunjukkan dalam pesta-pesta masyarakat Kerinci dan Sungaipenuh.

Pementasan seni musik dan tarian tradisional masyarakat daerah pegunungan Jambi itu biasanya hanya dilakukan pada kegiatan budaya dan pariwisata seperti Festival Danau Kerinci.
Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar (nomor delapan dari kiri baris belakang) foto bersama para peserta Festival Sike Rebana dan Suling Bambu Kerinci 2017 seusai pembukaan festival tersebut di tepi Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Selasa (7/11/2017). (Foto : PJN/RSM)

Terancam Punah

Menurut Adi Rozal, pihaknya menggelar festival tari Sike Rebana dan Suling Bambu karena seni musik dan tari tradisional Kerinci itu semakin terancam punah. Padahal seni musik dan tari tersebut memiliki potensi besar menjadi salah satu daya tarik wisata di kabupaten itu. Sementara seniman musik dan tari Sike Rebana maupun Suling Bambu Kerinci semakin langka.

“Karena itu melalui festival seni musik dan tari Sike Rebana serta Suling Bambu ini, kami berupaya mengangkat kembali seni musik dan tari tradisional Kerinci yang hampir punah. Melalui festival ini juga kami mengharapkan munculknya seniman-seniman muda Kerinci yang menguasai musik dan tari Sike Rebana maupun Suling Bambu,”katanya.

Dijelaskan, Kabupaten Kerinci mempunyai banyak kesenian khas di setiap desa. Untuk menghidupkan kembali seni – budaya tradisional tersebut, seniman Kerinci di setiap desa diharapkan secara rutin dan konsisten melakukan regenerasi seniman tradisional.

“Saya meminta para seniman peserta festival tari Sike Rabana dan music Suling Bambu saat ini bersama-sama mengaktifkan semua kesenian daerah. Hal itu penting karena Kerinci sudah menjadi ikon (branding) wisata di Provinsi Jambi,”katanya.

Dijelaskan, Sike Rebana Kerinci merupakan perpaduan tiga buah seni yakni, seni vokal, seni gerak (tari) dan seni musik. Seni vokal (nyanyian) biasanya ertema puji-pujian terhadap Sang Khalik Pencipta Alam Semesta. Tarian Sike Rebana diiringi nyanyian berirama tale (nyanyian khas Kerinci). Sedangkan musiknya berupa alat musik tabuh rebana dengan berbagai ukuran. Suara hentakan kaki dan tangan penari Sike Rebana juga berfungsi sebagai tambahan music pengiring.

Sedangkan kesenian Suling Bambu Kerinci, lanjut Adi Rozal, merupakan salah satu alat musik khas masyarakat Kerinci. Seni musik Suling Bambu Kerinci biasanya dipentaskan secara berkelompok oleh puluhan peniup seruling mirip paduan suara seruling. Tiupan seruling diiringi alat musik tambur, gendang dan gong.

“Seni musik Suling Bambu Kerinci berasal dari tradisi para gembala memainkan seruling bamboo di desa-desa. Saat ini semakin jarang anak-anak desa di Kerinci menggembalakan kerbau atau sapi. Kondisi itu pun membuat tradisi music suling bambu mulai punah. Tradisi musik seruling bambi di Kerinci mirip dengan tradisi musik seruling di tanah Batak, Sumatera Utara,”katanya.

Daya Tarik Wisata

Sementara itu, Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar pada kesempatan tersebut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Sike Rabana dan Seruling Bambu Kerinci tersebut. Melalui festival seni dan musik tradisional tersebut, seni – budaya Kerinci dan Sungaipenu yang terancam punah bisa digali dan dilestarikan kembali.

Menurut Fachrori Umar, budaya lokal mempunyai peranan yang penting dalam memperkokoh seni dan tradisi suatu daerah. Hal itu juga berlaku bagi Kabupaten Kerinci. Kekayaan seni dan tradisi di Kerinci perlu dipertahankan dan dikembangkan agar identitas seni – budaya Kerinci tidak hilang.

“Saya juga berharap seluruh kesenian tradisional Kerinci dan Sungaipenuh bisa dilestarikan menjadi salah satu daya tarik wisata ke Kerinci. Berbagai festival seni dan budaya yang digelar di Kerinci selama ini menjadi daya tarik wisata. Pementasan seni budaya Kerinci dan Sungaipenuh hendaknya digarap secara profesional agar benar- benar disukai wisatawan,”katanya.

Fachrori Umar pada kesempatan itu juga meminta para perantau asal Kerinci yang berada di mana saja, termasuk di negeri jiran Malaysia agar tidak melupakan kampong halaman, seni – budaya dan sanak saudara.

“Para perantau asal Kerinci kami harapkan sering-seringlah pulang melihat kampung halaman dan sanak saudara. Para perantau Kerinci juga jangan lupa membangun Kerinci,”katanya.

Banyak Berubah

Menurut Fachrori Umar, Kabupaten Kerinci belakangan ini sudah banyak berubah. Pembangunan infrastruktur, khususnya jalan semakin baik, termasuk jalan menuju tempat-tempat wisata. Bandara Depati Parbo Kerinci juga kini sudah lebih bagus, semakin layak dan aman didarati pesawat.

Namun demikian, lanjut Fachrori Umar masih banyak ruas jalan di Kerinci yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Misalnya ruas jalan Sanggaran Agung, Danau Kerinci menuju Kota Sungaipenuh dan ke arah Kota Jambi sekitar 8,7 kilometer (Km). Kemudian ruas jalan Jujun sepanjang 13,8 Km, jalan Lempur sekitar 22,5 Km, Kelok Sago-Sanggaran Agung sekitar 21,2 Km.

“Perbaikan dan pembangunan ruas jalan menuju objek-objek wisata Kerinci itu sudah mulai dilaksanakan dan anggarannya sudah ada. Anggaran pembangunan jalan ke Lempur tahun ini sekitar Rp 14 miliar dan anggaran dana pembangunan jalan Jujun – Kota Sungaipenuh sekitar Rp 27 miliar,"katanya. (PJN/RSM)




Share this article :

Posting Komentar