}); }); Menikmati Wisata Religi "Mandi Safar" di Pesisir Pantai Timur Jambi | MediaLintasSumatera
Home » , » Menikmati Wisata Religi "Mandi Safar" di Pesisir Pantai Timur Jambi

Menikmati Wisata Religi "Mandi Safar" di Pesisir Pantai Timur Jambi

Written By MediaLintasSumatera on Sabtu, 18 November 2017 | 20.05

Ribuan pengunjung melepas Menara Adat (persembahan) menuju laut pada prosesi Mandi Safar di pantai Babussalan, Desa Air Hitam, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi. (Foto : PJN/RSM)

MediaLintas Sumatera, JambiSemarak, meriah dan religius. Itulah kesan pertama yang bisa dipetik mengikuti ritual Mandi Safar di pantai Babussalan, Desa Air Hitam, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjungjabung Timur (Tanjabtim), Jambi, Rabu (15/11/2017) pagi. 

Kendati udara masih terasa menusuk tulang  ketika berada di pantai Babussalam pagi itu, namun ribuan pengunjung pantai berpasir putih di pesisir pantai timur Jambi itu seolah tak merasakannya. Mereka terhanyut suasana prosesi ritual Mandi Safar yang dilangsungkan di pantai nan indah itu.


“Udara memang terasa dingin di pantai ini pagi hari. Tetapi suasana yang meriah membuat saya kurang merasakan suasana dingin ini. Saya terhanyut rasa gembira mengikuti rangkaian prosesi Mandi Safar yang baru pertama kali saya hadiri,”kata kata Tuti (45), seorang pengunjung yang mengikuti prosesi Mandi Safar di pantai Babussalam, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjabtim, Provinsi Jambi, sekitar 300 kilometer (Km) dari Kota Jambi, Rabu (15/11/2017) pagi.

Tuti bersama keluarga datang dari Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Jambi, khusus mengikuti tradisi Mandi Safar tersebut. Mereka sudah cukup lama ingin hadir pada tradisi yang digelar setiap tahun itu.

“Tetapi baru kali ini kami sempat hadir. Selain ingin mendapat berkah, kami juga menghadiri Mandi Safar untuk mengisi liburan keluarga ke pantai timur Jambi,”ujarnya.
Para tokoh adat, tokoh agama dan tamu-tamu kehormatan mengawali prosesi Mandi Safar dengan berdoa bersama di pantai Babussalan, Desa Air Hitam, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi, Rabu (15/11/2017) pagi. (Foto : PJN/RSM)

Nuansa Religius

Nuansa religius cukup terasa selama rangkaian Mandi Safar tersebut berlangsung. Seluruh pengunjung menggunakan pakaian bernuansa agamis dan Melayu dilengkapi dan sorban atau penutup kepala serba putih. Di setiap penutup kepala peserta terselip sehelai daun mangga bertuliskan ayat-ayat Alquran. Daun mangga itu bertuliskan doa – doa penolak bala.

Selama prosesi Mandi Safar berlangsung, setiap pengunjung yang mandi di pantai diwajibkan menggunakan pengikat kepala putih dan sehelai daun mangga bertuliskan doa penolak bala. Tujuannya agar mereka terhindar dari gangguan binatang dan makhluk halus.

Ritual Mandi Safar atau Rabu terakhir di bulan Safar 1439 itu diawali dengan penulisan doa-doa penolak bala pada ribuan helai daun mangga di Mesjid Jami’at Takwa, Desa Air Hitam, Selasa (14/11) malam. Penulisan doa-doa tersebut dilakukan para santri dan santriwati dari Pondok Pesantren Wali Peetu, Desa Air Hitam, Sadu, Tanjabtim.

Ribuan daun mangga bertuliskan doa-doa penolak bala tersebut nantinya dibagikan kepada para pengunjung yang mengikuti Mandi Safar. Kemudian disiapkan juga Menara Adat. Menara Adat tersebut dibuat untuk dilepas ke laut.

Kemudian, Rabu (15/11) pagi, prosesi ritual Mandi Safar diawali dengan sembahyang bersama di pantai. Setelah itu dilanjutkan dengan mengarak Menara Adat yang dihias dan berisi 1.111 butir telur rebus. Menara Adat tersebut diarak 50 orang petugas. Sebelum Menara Adat tersebut dilepas ke laut, menara tersebut terlebih dahuli dinaiki tamu kehormatan.

Pada kesempatan itu yang didaulat sebagai tamu kehormatan Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar. Sedangkan seluruh telur yang berada di Menara Adat diberikan kepada pengunjug dengan cara melemparkannya ke kerumunan pengunjung.

Seluruh telur rebus yang ada di Menara Adat diberikan kepada pengunjung menunjukkan bahwa sang pemimpin raja di pesisir pantai timur Jambi sangat kaya dan dermawan. Menara Adat dilepas ke laut untuk memohon agar penguasa laut memberikan keselamatan dan berkah yang melimpah kepada para nelayan.
Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar (empat dari kiri) yang didaulat menjadi tamu kehormatan menuju lokasi puncak ritual Mandi Safar di pantai Babussalan, Desa Air Hitam, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi, Rabu (15/11/2017) pagi. (Foto : PJN/RSM)

Nilai Jual 

Kepala Pondok Pesantren Wali Peetu yang juga tokoh adat Desa Air Laut, Tanjabtim,  HM As’ad Arsyad pada kesempatan itu mengatakan, tradisi Mandi Safar pertama kali dilakukan seorang ulama sufi di Tanjabtim, Syeikh Syarifuddin. Mandi Safar  dilakukan dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar. Maksud pelaksanaan Mandi Safar untuk menolak segala bala atau bencana dalam setahun.

Tradisi Mandi Safar tersbut pun, lanjut HM As’ad Arsyad, dilaksanakan secara turun-temurun oleh warga masyarakat Bugis asal Sulawesi Selatan yang bermukim di pesisir pantai timur Jambi sejak tahun 1960-an. Ritual Mandi Safar dipusatkan di pantai Babussalam, Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Tanjabtim.

Menurut HM As’ad Arsyad, pada awalnya warga masyarakat setempat menganggap Mandi Safar sebagai pelaksanaan ajaran Islam, padahal bukan. Tradisi Mandi Safar sebenarnya hanya merupakan tradisi atau budaya masyarakat yang memiliki tujuan sosial meningkatkan silaturahmi antarwarga pesisir pantai timur Jambi.

Melalui ritual Mandi Safar, tambahnya, seluruh warga masyarakat yang berasal dari Sulawesi yang bermukim di pesisir pantai Timur Jambi bisa berkumpul bersama. Karena itu paradigma Mandi Safar kini dikembalikan pada tujuan aslinya, untuk merekatkan tali persaudaraan bukan kegiatan kegamaan.

“Saat ini Mandi Safar bukan lagi hanya milik etnis atau agama tertentu. Seluruh etnis dan agama sudah ikut mengikuti tradisi Mandi Safar karena tradisi tersebut lebih menonjolkan nilai sosial budaya sekaligus sebagai salah satu daya tarik wisata,”katanya.
Suasana kemeriahan pelaksanaan tradisi Mandi Safar di pantai Babussalan, Desa Air Hitam, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi, Rabu (15/11/2017) pagi. (Foto : PJN/RSM)

Perlu Pelestarian

Sementara itu Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar pada kesempatan ketika membuka perhelatan Mandi Safar tersebut mengharapkan, Mandi Safar yang diadakan setiap tahunnya oleh masyarakat Desa Air Hitam Laut harus tetap dilestarikan serta terus dikembangkan.

"Mandi Safar ini sebuah tradisi yang sangat unik dan sudah menjadi kegiatan wisata yang mampu menarik wisatawan ke Desa Air Hitam Laut. Tradisi ini bernuansa religi juga. Melalui Mandi Safar warga masyarakat pesisir pantai timtu Jambi yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan memohon doa kepada Sang Pencipta agar dijauhkan dari segala bencana,"katanya.

Menurut Fachrori Umar, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi sangat mendukung bila kegiatan Mandi Safar diselenggarakan setiap tahun dan dikelola secara profesional. Dengan demikian tradisi Mandi Safar bisa menarik para wisatawan ke Tanjabtim.

"Saya berharap, tradisi Mandi Safar ini bisa dikemas lebih menarik lagi untuk menarik minat para wisatawan. Dengan demikian para wisatawan yang berkunjung ke Desa Air Hitam Laut bisa menyaksikan keunikan tradisi Mandi Safar sekaligus turut serta dalam ritual Mandi Safar ini,"katanya.

Sedangkan menurut Bupati Tanjabtim, Romi Haryanto, Mandi Safar merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Tanjabtim yang memiliki nuansa religi, budaya dan wisata. Inti tradisi Mandi Safar, yaitu meningkatkan silaturahmi warga masyarakat, memanjatkan doa agar terhindar dari malapetaka serta memberikan hiburan kepada warga.

Dikatakan, Mandi Safar sudah rutin dilaksanakan setiap tahun. Bahkan, tradisi tersebut sudah menjadi ikon atau ciri khas wisata pesisir pantai Tanjabtim. Melalui pelaksanaanMandi Safar, pantai Babussalam, Desa Air Hitam, Sadu, Tanjabtim yang meiliki panjang sekitar 20 kilometer (km) semakin dilirik wisatawan.

Menurut Romi Haryanto, pada pelaksanaan Mandi Safar tahun ini digelar lomba pacu perahu atau pompong. Lomba pacu pompong tersebut baru pertama kali dilaksanakan untuk memeriahkan Mandi Safar. Lomba pacu pompong juga merupakan salah satu kearifan lokal yang bisa memberikan hiburan kepada warga masyarakat.

“Lomba pacu pompong digelar guna memeriahkan Mandi Safar. Lomba ini digelar agar para nelayan yang berhenti melaut tiga hari menjelang prosesi Mandi Safar memiliki kegiatan sekaligus menghibur,”tambahnya. (MLS/RSM}


Share this article :

Posting Komentar