. Ini Lima Tokoh Utama dalam Kongres Sumpah Pemuda 1928 | MediaLintasSumatera
Home » , , » Ini Lima Tokoh Utama dalam Kongres Sumpah Pemuda 1928

Ini Lima Tokoh Utama dalam Kongres Sumpah Pemuda 1928

Written By MediaLintasSumatera on Rabu, 28 Oktober 2020 | 08.46

(Matra, Jambi)-Hari ini Rabu 28 Oktober 2020, genap memperingati 92 Tahun (28 Oktober 1928- 28 Oktober 2020) Hari Sumpah Pemuda. Momen Sumpah Pemuda tidak lepas dari peran tokoh-tokoh pemuda tahun 1928 yang telah berhasil mencetuskan negara Indonesia merdeka.

Setiap 28 Oktober, kita menyelenggarakan upacara bendera sebagai tanda penghormatan kepada para pahlawan yang berjuang untuk berdirinya bangsa Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Momen tersebut tidak lepas dari peran tokoh-tokoh pemuda tahun 1928. Sumpah Pemuda telah ada 17 tahun sebelum Indonesia merdeka.

Jadi Sumpah Pemuda merupakan tonggak sejarah dirintisnya bangsa Indonesia yang digerakkan oleh para pemuda-pemudi yang bercita-cita mengagas Indonesia lewat ikrar Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Ikrar tersebut dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Republik Indonesia. Di mana para pemuda-pemudi Indonesia telah melakukan kongres yang berlangsung dua hari yakni, 27-28 Oktober.

Namun, jika berbicara Sumpah Pemuda tidak terlepas dari sejumlah tokoh-tokoh penting yang melahirkan rumusan yang perlu diketahui generasi penerus bangsa.

Berikut lima tokoh utama Sumpah Pemuda yang berhasil dirangkum Tagar dari berbagai sumber.

1. Soegondo Djojopoespito

Pria yang lahir di Tuban, Jawa Timur pada 22 Februari 1905 itu merupakan ketua panitia dari Kongres Pemuda II yang dipilih langsung oleh Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua Persatuan Pemuda Indonesia (PPI) di negeri Belanda dan Ir. Soekarno di Bandung.

Sebelum namanya dinobatkan sebagai ketua, dia terbilang anak muda yang aktif dalam organisasi kepemudaan dalam Persatuan Pemuda Indonesia (PPI).

Namun, keinginannya semakin kuat untuk memerdekakan Indonesia kala dirinya membaca majalah Indonesia Merdeka dan kemudian mengenalkannya dengan organisasi Perhimpunan Indonesia.

Sejak saat itu, dia terinspirasi untuk membuat sebuah perkumpulan berisi para mahasiswa dan pelajar untuk menyatukan semangat kemerdekaan. Lalu di tahun 1926 Soegondo pun membentuk Perhimpunan pelajar-pelajar Indonesia yang diketuai oleh Sigit. Setahun kemudian, posisi ketuapun diserahkan ke Soegondo.

Sebagai tokoh pemuda tahun 1928 yang memimpin Kongres Pemuda Indonesia, dia menghasilkan Sumpah Pemuda dengan moto Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia.

2. Mohammad Yamin

Nama pahlawan yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Pria kelahiran Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat pada 23 Agustus 1903 itu awalnya dikenal sebagai sastrawan, sejarawan, budayawan, serta politikus dan ahli hukum.

Selain dikenal sebagai sastrawan yang sudah berhasil menelurkan sejumlah karya puisi seperti, Tanah Air, Indonesia Tumpah Darahku, Tan Malaka. Dia juga menjabat sebagai sekretaris dalam Kongres Pemuda Indonesia tahun 1928.

Sebenarnya M Yamin juga merupakan kandidat ketua, namun karena ketua yang dibutuhkan haruslah sangat netral dan M Yamin berasal dari Jong Sumatra, sehingga akhirnya Soegondolah yang dipilih menjadi ketua.

Kemudian saat sesi terakhir dari Kongres pemuda II, M Yamin mengusulkan rumusan resolusi yang dia tulis dalam secarik kertas. Kertas tersebut berisi tiga frasa yaitu Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa yang kemudian menjadi trilogi Sumpah Pemuda.

3. Soenario Sastrowardoyo

Perjalanannya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sangat besar karena dia berperan secara aktif dalam dua peristiwa yaitu Manifesto 1025 dan juga Kongres Pemuda II yang merupakan tonggak dari sejarah nasional.

Dalam Manifesto 1925, dia merupakan pengurus atau lebih tepatnya Sekretaris II Perhimpunan Hindia yang kelak berganti menjadi Perhimpunan Indonesia yang terdapat di negeri Belanda.

Kemudian dalam Kongres Pemuda II sendiri, Soenario membantu melancarkan perjalanan Kongres sebagai penasihat karena dia memiliki banyak pengalaman dalam organisasi.

Selain itu, pengalamannya di Belanda juga membawa dampak baik dalam pembelaannya pada para aktivis yang berurusan dengan para polisi Hindia Belanda.

4. Wage Rudolf Soepratman

Mungkin nama ini sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Soalnya dia adalah salah satu pahlawan yang dikenal dengan lagu ciptaanya yang dikumandangkan saat Bendera Merah Putih dikibarkan dalam setiap upacara, 'Indonesia Raya'.

Putra ketujuh dari sembilan bersaudara ini ternyata juga ambil peran saat Kongres Pemuda II yaitu, dia meminta kepada Soegondo selaku ketua Kongres untuk memperdengarkan lagu ciptaanya.

Permintaan itu menjadi pertimbangan yaang berat bagi Soegondo, karena saat itu Kongres dijaga ketat polisi Belanda. Mereka tidak suka mendengar kata-kata merdeka. Hal itu diduga bisa memicu pembubaran bahkan penangkapan.

Untuk itu, dengan trik elegan dan diplomatis, lagu Indonesia Raya akhirnya bisa berkumandang lewat lantunan biola. Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu kebangsaan itu diperdengarkan di depan umum. Mendengar lagu tersebut, semua yang hadir terpukau.

5. Dolly Salim

Dolly Salim lahir dengan nama Theodora Athia Salim pada 26 Juli 1913. Namanya mulai diperhitungkan dalam jajaran pahlawan kala dia aktif sebagai aktivis kemerdekaan semasa mudanya.
Sementara namanya dinobatkan sebagai tokoh penting dalam Hari Sumpah Pemuda, karena putri dari Agus Salim ini merupakan orang pertama yang memperdengarkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman secara instrumental dengan menggesek biolanya hingga membuat seluruh peserta terpukau.

Tak hanya itu, dia juga turut melantunkan lirik lagu tersebut di luar kepala dengan sedikit perubahan lirik yaitu Merdeka...Merdeka diubah menjadi Mulia..Mulia. Hal itu dilakukan karena adanya ancaman represi dari pemerintah kolonial Belanda.

Padahal kala itu, dia tidak termasuk dalam anggota Kongres. Perempuan yang akrab disapa Dolly Salim ini justru dari perwakilan organisasi kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij) atau Gerakan Kepanduan bernapaskan Islam Nasionalis yaitu organisasi yang berada di bawah naungan Persatuan Pemuda Islam yang saat itu penasihatnya ayahnya Dolly yakni, Agus Salim.

Refleksi 92 Sumpah Pemuda

Sementara Wakil Ketua DPRD Kota Jambi Pangeran HK Simanjuntak SE MSi mengatakan saatnya bagi Pemuda untuk merefleksikan diri dalam menyambut Hari Sumpah Pemuda ke-92, yang akan dirayakan pada 28 Oktober 2020, sebagai momentum luar biasa, apalagi dengan tema “Bersatu dan Bangkit”.

“Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928 dimana seluruh pemuda lintas suku dan agama bersatu dan bertekad mengikrarkan Sumpah Pemuda, Bertanah Air yang Satu, Tanah Air Indonesia. Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia dan Berbahasa Satu yaitu Bahasa Indonesia.  Semangat Persatuan ini yang harus ada dalam setiap jiwa dan raga pemuda Indonesia. Saat ini tantangan pemuda Indonesia akan jauh lebih berat kedepan tetapi yakinlah dengan semangat,” kata Pangeran HK Simanjuntak SE MSi dari Fraksi Nasdem ini kepada Jambipos, Selasa (27/10/2020).

Menurut Pangeran HK Simanjuntak SE MSi, persatuan dan jiwa nasionalisme  yang tinggi serta masing-masing harus membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, ahklak yang baik maka semua tantangan di depan akan dapat diatasi.

Disebutkan, tema “Bersatu dan Bangkit”, pemilihan tema ini sungguh luar biasa, karena bersentuhan dengan situasi kekinian, di mana Indonesia sedang giat membangun menuju lebih maju, kemudian sedang memerangi pemutusan mata rantai sebaran pandemi Covid-19 dan di sejumlah daerah provinsi, kabupaten dan kota, sedang menjalani tahapan demi tahapan pelaksanaan Pilkada Serentak 2020.

Pangeran HK Simanjuntak SE MSi menyampaikan pesan kepada para pemuda – khususnya di Kota jambi  untuk lebih berperan dalam pencapaian laju pembangunan Kota Jambi yang lebih maju, lebih baik dan sejahtera. (Berbagaisumber/Asenk Lee Saragih)


Share this article :

Posting Komentar