. Tradisi Kenduri Sko Kerinci nan Tak Pernah Tergerus Budaya Global | MediaLintasSumatera
Home » , , , , , » Tradisi Kenduri Sko Kerinci nan Tak Pernah Tergerus Budaya Global

Tradisi Kenduri Sko Kerinci nan Tak Pernah Tergerus Budaya Global

Written By MediaLintasSumatera on Sabtu, 15 Januari 2022 | 19.37


Gubernur Jambi, Dr H  Al Haris, SSos, MH (dua dari kanan) didampingi isteri, Hj Hesti Haris (kanan) mengambil sajian sekapur sirih pada pelaksanan Kenduri Sko di Desa Tebat Ijuk, Kecamatan Depati Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Sabtu (15/1/2022). (Foto : Matra/KominfoJambi).

(Matra, Jambi) – Budaya global yang mendominasi kancah budaya masyarakat modern saat ini tidak sepenuhnya memunahkan seni - budaya tradisional di Indonesia. Salah satu buktinya dapat dilihat dari eksistensi budaya Kenduri Sko di tengah masyarakat Kerinci, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. 

Hingga saat ini, budaya atau tradisi Kenduri Sko atau ucapan syukur kepoada Tuhan yang Maha Esa atas hasil panen pertanian (Pesta Panen) masih digelar secara rutin setiap tahun di daerah pegunungan tersebut. Pelaksanaan Kenduri Sko juga tetap dilaksanakan sesuai aslinya, yakni penyampaian ucapan syukur den pesan kebudayaan secara lisan. Pada Kenduri Sko juga biasanya diisi dengan pemberian gelar adat kepada pemipmin daerah. 

Hal tersebut tampak pada pelaksanan Kenduri Sko di Desa Tebat Ijuk, Kecamatan Depati Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Sabtu (15/1/2022). Kenduri Sko yang dihadiri ratusan warga dan tokoh masyarakat Kerinci tersebut turut dihadiri Gubernur Jambi, Dr H  Al Haris, SSos, MH. Al Haris mendapatkan gelar adat pada Kenduri Sko tersebut. 

Al Haris pada kesempatan tersebut mengapresiasi komitmen dan konsistensi masyarakat adat Kerinci yang masih tetap melestarikan adat dan budaya Kenduri Sko. Pelaksanaan Kenduri Sko tersebut sangat penting menjaga dan melestarikan adat budaya Jambi agar tak lekang oleh waktu dan para generasi muda dapat terus mewarisi adat budaya yang ada. 

“Saya juga meminta seluruh warga masyarakat di Jambi tetap melestarikan adat budaya Jambi seperti Kenduri Sko di Kabupaten Kerinci. Pelestarian seni budaya daerah itu bisa dilakukan dengan menggelar agenda atau acara seni budaya secar rutin atau berkelanjutan seperti  pelaksanaan Kenduri Sko di Kerinci ini,”ujarnya. 

Menurut Al Haris, Kenduri Sko memiliki nilai keagamaan yaitu mengajarkan masyarakat untuk terus bersyukur karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan keberkahan berupa hasil panen yang melimpah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga telah memberikan nikmat dan rejeki dalam kehidupan sehari hari. Bukan hanya harta saja, tapi juga kesehatan, orang orang baik dan tulus, serta kemudahan dalam menjalankan ibadah.

“Kenduri Sko ini juga memiliki nilai kemanusiaan untuk saling silahturahmi antara masyarakat. Kita mengajak seluruh masyarakat berkumpul dan saling berbagi kebahagiaan pada Kenduri Sko. Kenduri Sko merupakan bentuk penghargaan kepada leluhur yang telah mewariskan tanah pusaka berupa lahan untuk digarap menjadi sawah dan kebun sehingga menghasilkan panen yang memuaskan. Ini menunjukkan sikap menghargai pemberian leluhur, sebagai perwujudan nilai kemanusiaan,”katanya.
Gubernur Jambi, Dr H  Al Haris, SSos, MH (dua dari kanan) didampingi isteri Hj Hesnidar Haris (kanan) mendapatkan kain khas adat Kerinci pada pelaksanan Kenduri Sko di Desa Tebat Ijuk, Kecamatan Depati Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Sabtu (15/1/2022). (Foto : Matra/KominfoJambi).

Nilai Dedmokrasi 

Selain memiliki nilai keagamaan dan nilai kemanusiaan, lanjut Al Haris, Kenduri Sko juga memiliki nilai demokrasi dan musyawarah karena penyelenggaraan Kenduri Sko tak lepas dari proses musyarawah dan rembuk bersama masyarakat. Hal tersebut mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk bersuara dan berpendapat.

Dijelaskan, pemberian gelar adat bagi seseorang (pemimpin) yang dilaksanakan pada Kenduri Sko juga melalui musyawarah bersama. Hal tersebut dilakukan karena sekalipun seseorang memiliki kedudukan tertinggi dalam masyarakat, seseorang tidak bisa memutuskan sendiri kebijakan untuk masyarakat. Pemimpin juga harus tetap bisa bermusyawarah dengan semua pemangku kepentingan dan masyarakat agar mencapai keputusan yang bijaksana bagi semua.

“Penyelenggaran Kenduri Sko melibatkan banyak orang. Seluruh lapisan masyarakat yang menandakan teguh dan kuatnya prinsip masyarakat Kerinci tentang kesatuan dan persatuan, saling membantu dan saling bahu membahu. Kerukunan yang telah dipegang teguh oleh masyarakat Kerinci merupakan teladan yang harus bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari sebagai bangsa yang majemuk,”katanya.

Al Haris mengungkapkan, penerapan nilai - nilai adat istiadat dan budaya seperti Kenduri Sko dalam kehidupan sehari hari sangat bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara terutama dalam menghadapi banyaknya serbuan budaya asing yang masuk pada era globalisasi saat ini.

“Salah satu manfaat nyata penerapan nilai-nilai adat istiadat dan budaya dalam kehidupan sehari-hari, yakni menyaring dampak negatif yang timbul dari globalisasi, digitalisasi dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu memupuk, menanamkan mempertahankan nilai-nilai adat istiadat dan budaya merupakan salah satu upaya mempertahankan jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia,”katanya.

Al Haris yang juga mantan Bupati Merangin pada kesempatan tersebut juga mengharapkan agar generasi muda Kerinci terus melanjutkan tradisi Kenduri Sko. Setiap pemangku kepentingan memiliki peranan untuk menyelamatkan Kenduri Sko dan tradisi-tradisi lain dari kepunahan. 

Dikatakan, seluruh pengangku adat Kerinci harus melakukan pendekatan edukasi melalui sekolah-sekolah untuk pelestarian Kenduri Sko. Kemudian Kenduri Sko juga perlu digelkar secara rutin guna menggugah minat para generasi muda mengenalkan Kenduri Sko kepada masyarakat luas bahkan hingga ke penjuru negeri, seperti yang saat ini dilakukan oleh masyarakat Desa Ijuk, Kabupaten Kerinci.

“Saya sangat mengharapkan, melalui nilai - nilai yang terkandung dalam adat istiadat dan budaya dapat berperan dan berfungsi memberikan keteduhan dalam kehidupan sehari-hari yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan di Jambi,”katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Kenduri Sko, Amril Wahab DPT pada kesempatan tersebut mengakatan, Kenduri Sko merupakan kegiatan lima tahunan di desa tersebut. Namun akibat pandemi Covid-19 tahun 2020 dan 2021, Kenduri Sko tidak digelar. Kenduri Sko bisa digelar kembali tahun ini menyusul adanya pemulihan kehidupan sosial kemasyarakatan di tengah melandainya kasua Covid-19 di Jambi dan nasional. 

Penyelenggaraan Kenduri Sko di sponsori Ikatan Pemuda Pelajar Desa Tebat Ijuk yang pendanaannya berasal dari masyarakat setempat dan masyarakat perantauan. Penyelenggaraan Kenduri Sko menelan dana sekitar Rp 234 juta. 

Sementara itu berdasarkan literatur yang dihimpun medialintassumatera.com (Matra), Kenduri sko merupakan salah satu bentuk perhelatan adat tahunan yang digelar Masyarakat kerinci secara turun – temurun. Kenduri Sko sebagai syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil panen yang diperoleh para petani. 

Kenduri Sko merupakan upacara Kenduri Sko biasanya dipimpin seorang lurah/kepala desa dan dihadiri tokoh masyarakat, nenek mamak tuo tengganai (tokoh budaya), cerdik pandai, alim ulama dan seluruh masyarakat des. Kenduri Sko yang juga merupakan upacara sakral yang bertujuan menyampaikan ucapan terima kasih kepada nenek moyang pembawa peradaban tentang bercocok tanam.

Bahan – bahan yang dipersiapkan/disediakan pada upacara (ritual) Kenduri Sko, yakni nasi kuning sebagai simbol pemberian kehormatan kepada Nenek moyang. Nasi kuning harus dimasak anak perempuan Lurah Serah Bumi yang keadaan suci dan harus berwudhu. Nasi kuning terlebih dimakan Lurah Serah Bumi. Kemudian baru boleh dinikmati masyarakat.

Simbol bunga sembilan warna juga disediakan dalam ritual tersebut untuk menyampaikan rasa hormat terhadap arwah nenek moyang.Selain itu makanan khas jenis lemang dan nasi gulai yang disediakan dalam Kenduri Sko dinikmati bersama seluruh masyarakat. 

Biasanya rangkaian Kenduri Sko terdiri dari penyiapan bahan-bahan upacara (ritual), acara adat, berbalas pantun, berdoa dan penaburan bahan di sawah. Kemudian seluruh pihak terkait (pemangku adat) juga harus berziarah ke makam nenek moyang. (Matra/Radesman Saragih).

Share this article :

Posting Komentar

Kita Bisa

RAGAM BERITA