. Pemakaian Busana Adat Simalungun Sering Melenceng dari Aslinya | MediaLintasSumatera
Home » , , , , » Pemakaian Busana Adat Simalungun Sering Melenceng dari Aslinya

Pemakaian Busana Adat Simalungun Sering Melenceng dari Aslinya

Written By MediaLintasSumatera on Sabtu, 12 Februari 2022 | 18.33

Sosialisasi dan Pelatihan Pakaian Adat Simalungun di Siantar Hotel, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (12/2/2022). (Foto : Matra/FebP)

(Matra, Pematangsiantar) – Pemakaian atau penggunaan busana adat Simalungun belakangan ini semakin sering melenceng dari aslinya. Busana adat Simalungun yang digunakan di acara adat perkawinan, pesta dan acara lainnya sering tidak sesuai dengan aturan atau cara pemakaian busana khas tradisional Simalungun yang benar. Karena itu penggunaan busana atau pakaian adat Simalungun di masa mendatang perlu diperbaiki agar kekhasan pakaian adat Simalungun tidak hilang.

Demikian salah satu pemikiran yang bisa dipetik pada Sosialisasi dan Pelatihan Pakaian Adat Simalungun di Siantar Hotel, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (12/2/2022). Pelatihan pakaian adat Simalungun yang digelar Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partuha Maujana Simalungun (PMS) Kota Pematangsiantar tersebut dibuka Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PMS dr Rajin Saragih.

Sosialisasi  dan pelatihan Pakaian Adat Simalungun yang dihadiri sekitar  70 orang peserta yang sebagian besar generasi muda Simalungun tersebut menampilkan pembicara pakar seni – budaya Simalungun dan Dosen Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (Sumut), Drs Setia Dermawan Purba MSi, an budayawan Simalungun dan dosen Universitas Medan, Dr Erond L Damanik MSi serta dan budayawan/Sekretaris DPP PMS, Tuahman Saragih Garingging.

Sosialisasi dan pelatihan pakaian adat Simalungun yang dipandu S Triadil Saragih, MSn tersebut turut dihadiri, Majelis Hapatuanon Nabolon/Tuan Sorba Dolok Hj Burhan Saragih, Ketua DPC PMS PMS Kota Pematangsiantar, Kawan Jatinggi Purba,SPd dan Ketua Panitia/Sekretaris DPC PMS Kota Pematangsiantar, M Syahrizal Damanik.

Rajin Saragih pada kesempatan tersebut mengatakan, pakaian adat termasuk salah satu bentuk identitas atau jati diri masyarakat di sauatu daerah. Busana atau pakaian adat tersebut umumnya dikenakan atau dipakai mewakili budaya atau identitas kelompok suku bangsa tertentu, termasuk masyarakat Simalungun. Karena itu pemakaian busana adat Simalungun harus dilakukan benar-benar sesuai aslinya agar Simalungun tidak  sampai kehilangan salah satu identitas budaya berpakaian yang anggun dan santun.

“Namun pemahaman mengenai pakaian adat Simalungun akhir-akhir ini terasa terabaikan dan semakin berkurang. Dalam setiap acara adat perkawinan maupun acara adat resmi, pemakaian pakaian adat Simalungun tidak sesuai dengan pola pemakaian yang baik dan benar. Karena itulah perlu adanya sosialisasi dan pelatihan pakaian adat Simalungun,”katanya.

Para pembicara Sosialisasi dan Pelatihan Pakaian adat Simalungun di Siantar Hotel, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (12/2/2022). (Foto : Matra/FebP).

Menurut Rajin Saragih, sosialisasi dan pelatihan adat pakaian adat Simalungun yang dilaksanakan DPC PMS Kota Pematangsiantar tersebut penting guna mengingatkan kembali masyarakat Simalungun agar tidak memakai pakaian adat Simalungun asal-asalan.

Selain itu, tambahnya, sosialisasi dan pelatihan pakaian adat Simalungun tersebut juga penting supaya generasi muda Simalungun lebih mengetahui dan mau menerapkan cara atau pola penggunaan pakaian adat Simalungun yang benar.

“Pakaian adat Simalungun ini merupakan identitas masyarakat dan daerah kita. Karena itu jangan sampai dilupakan atau penggunannya asal-asalan.Mari kita gunakan pakaian adat Simalungun secara benar,”katanya.

Menurut Rajin Saragih, DPP PMS mengharapkan, sosialiasi dan pelatihan pakaian adat Simalungun tersbeut dilakukan secara luas di setiap kecamatan, kelurahan dan desa. Hal itu penting agar seluruh masyarakat Simalungun bisa lebih memahami dan melaksanakan cara-cara penggunaan pakaian adat Simalungun sebagai salah satu kearifan lokal.

“Penggunaan pakaian adat Simalungun secara benar termasuk salah satu upaya kita menunjukkan kearifan lokal di Simalungun. Kita adalah bangsa ataupun suku yang berbudaya. Di tengah-tengah keberagaman budaya nasional, warisan nenek moyang kita Simalungun perlu kita lestarikan sebagai salah satu upaya pelestarian budaya nasional,”katanya.

Sementara itu, Ketua PMS DPC Kota Pematangsiantar, Kawan Jatinggi Purba pada kesemoatan tersebut mengatakan, pihaknya menggelar Sosialisasi dan Pelatihan Pakaian Adat Simalungun guna melestarikan adat dan budaya Simalungun, khususnya pakaian adat Simalungun.

Dikatakan, adat dan budaya Simalungun bisa dilihat dari tiga hal, yakni bahasa, ornamen dan pakaian serta adatnya. Jika dilihat dari data yang disampaikan penelitian dari pusat bahasa Indonesia, dari 700-an suku atau bahasa di Indonesia, delapan di antaranya sudah punah. Ada seni budaya yang aman, ada yang rentan mengalami kemunduran, hampir punah bahkan ada yang punah.

Menurut Kawan Jatinggi Purba, bahasa Simalungun sudah mengalami kemunduran. Berdasarkan penelitian, warga umur 10 tahun ke bawah yang masih memakai bahasa Simalungun hanya hanya sekitar 30 %. Pemkakai bahasa Simalungun usia anak-anak tersebut pun hanya di daerah-daerah Simalungun. Di Kota Pematangsiantar sendiri sudah hampir tidak ada lagi anak-anak yang memakai bahasa Simalungun dalam kehidupan sehari-hari.

“Inilah yang menjadi tugas kami sebagai pemangku adat Simalungun. Sosialisasi dan pelatihan pakaian adat Simalungun ini kami gelar agar pakaian adat Simalungun juga tidak punah. Kegiatan seperti ini jarang dilakukan 10 tahun terakhir. Kami selaku pengurus PMS yang baru mempunyai tugas dan tanggung jawab melestarikan budaya dan adat Simalungun,”ungkapnya.

Kawan Jatinggi Purba mengatakan, sosialisasi dan pelatihan pakaian adat Simalungun tersebut diharapkan menjadi dasar penggunaan pakaian adat Simalungun secara benar bagi pihak-pihak yang menggunakan pakaian adat Simalungun. Baik itu pegiat bahasa dan pakaian adat Simalungun seperti guru-guru,  penata rias maupun sanggar Simalungun .

Sementara Ketua Panitia Sosialisasi dan Pelatihan Pakaian Adat Simalungun, M Syahrizal Damanik, SPd, MPd mengatakan, sosialisasi dan pelatihan pakaian adat Simalungun tersebut merupakan kegiatan perdana DPC PMS Kota Pematangsiantar awal tahun 2022. Kegiatan tersebut juga menjadi upaya DPC PMS Kota Pematangsiantar untuk Patunggung Simalungun dan menambah wawasan mengenai pakaian adat Simalungun bagi semua peserta, khususnya  generasi muda Simalungun.

“Acara ini bertujuan menambah wawasan kita mengenai pakaian adat Simalungun, filosopinya, jenisnya dan bagaimana cara pemakaian. Walaupun sehari-hari kita sering memakai pakaian adat Simalungun, atau melihatnya, tapi belum tentu pemakaian pakaian adat tersebut sudah benar. Karena itu kita perlu mengetahui lebih jelas cara yang benar mengenai pemakaian pakaian adat Simalungun,”katanya.***

Laporan        : Febriyan Purba

Editor            : Radesman Saragih

 

Share this article :

Posting Komentar

Kita Bisa

RAGAM BERITA