. Mengembalikan Roh Tradisi Bantai Adat Jelang Ramadhan di Merangin, Momentum Pererat Rasa Kekeluargaan | MediaLintasSumatera
Home » , , , , , , » Mengembalikan Roh Tradisi Bantai Adat Jelang Ramadhan di Merangin, Momentum Pererat Rasa Kekeluargaan

Mengembalikan Roh Tradisi Bantai Adat Jelang Ramadhan di Merangin, Momentum Pererat Rasa Kekeluargaan

Written By MediaLintasSumatera on Rabu, 16 Maret 2022 | 08.29

Tradisi Bantai Adat di Kabupaten Merangin, Jambi baru-baru ini. (Foto : Matra/Ist).

(Matra, Jambi) – Warga masyarakat (umat Muslim) Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi kembali bergairah menghadapi bulan suci Ramadhan 1443 Hijriyah/2022. Kegairahan menyambut Ramadhan tersebut bangkit kembali menyusul relaksasi (kelonggaran) melakukan kegiatan keagamaan menyusul melandainya kasis Covid-19. 

Berkat adanya relaksasi kegiatan keagamaan tersebut, warga masyarakat Tabir, Merangin bisa kembali menggelar tradisi “Bantai Adat” yang sempat terhenti akibat Covid-19 selama dua tahun terakhir (2020 – 2021). Tradisi Bantai Adat yang selalu dinanti warga Tabir setiap menjelang Ramadhan tersebut ditandai dengan pemotongan hewan kerbau secara massal. 

Bahkan tradisi Bantai Adat Anak Negeri warga Tabir menjelang Ramadhan (Puasa) tahun ini bakal berlangsung lebih meriah dan speltakuler karena disertai dengan berbagai kegiatan lain yang sifatnya nasional, yakni kegiatan wisata, budaya, pameran produk ekonomi rakyat dan gerakan nasional (Gernas) Bangga Buatan Indonesia (BBI).

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin, H Fajarman pada rapat lintas sektoral terkait pelaksanaan Bantai Adat menjelang Ramadhan di kantor Bupati Merangin, Provinsi Jambi, Selasa (15/3/2022) menjelaskan, warga masyarakat di Merangin bisa kembali menggelar tradisi Bantai Adat dan kegiatan lain secara bebas menyusul kebebasan berkegiatan yang diberikan pemerintah saat ini.

“Selama dua tahun ini, acara Bantai Adat tidak bisa dilakukan dengan bebas karena kebijakan protocol kesehatan (prokes) pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Nah, tahun ini sudah ada kelonggaran berkegiatan di berbagai bidang, termasuk bidang keagamaan. Karena itu Bantai Adat bisa dilakukan secara meriah,”katanya.

Dijelaskan, pada pelaksanaan Bantai Adat di Tabir, Merangin akhir Maret ini, digelar juga pameran produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), atraksi seni budaya, kearifan lokal serta bazar kuliner tradisional.

‘’Bantai Adatnya  akan kita laksanakan pada Rabu subuh (30/3/2022). Selain itu digelar juga tradisi Pawai Takruf yang akan diikuti sebanyak 300 anak-anak yang sudah khatam Al Quran. Mereka akan berjalan kaki sekitar 200 meter pada pagi harinya,’’ujarnya.

Menurut Fajarman, setelah Pawai Takruf, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama di Cagar Budaya Rumah Tuo Rantau Panjang. Guna menjamin ketersediaan kebutuhan pokok untuk Bantai Adat diturunkan tim mengantisipasi kelangkaan kebutuhan pokok masyarakat, termasuk minyak goreng.

Terkait, prosesi atau ranghkaian Bantai Adat, Fajarman mengatakan, semuanya sudah dipersiapkan pantia dari Lembaga Adat Tabir, Merangin. Pemkab Merangin hanya membantu sarana jalan menuju ke lokasi Bantai Adat dan menyediakan kebutuhan air bersih untuk acara tersebut.

“Mudah-mudahan acara ini berlangsung sukses dan lancar, sehingga warga masyarakat Tabir, Merangin bisa melaksanakan tradisi Bantai Adat dengan meriah dan menyambut Ramadhan dengan penuh rasa kebersamaan/kekeluargaan,”katanya.

Sekretaris Daerah  Pemerintah Kabupaten Merangin, H Fajarman (dua dari kanan) pada rapat lintas sektoral terkait pelaksanaan Bantai Adat menjelang Ramadhan di kantor Bupati Merangin, Provinsi Jambi, Selasa (15/3/2022). (Foto : Matra/KominfoMerangin).

Pererat Silaturahmi

Sementara itu, Irwansyah (55), seorang warga Desa Perentak, Kecamatan Pangkalan Jambi, Merangin mengatakan, tradisi Bantai Adat di desanya selama ini digelar dengan meriah. Namun selama pandemi Covid-19, Bantai Adat terhenti.

Menurut Irwansyah, Bantai Adat memiliki peran besar menjalin kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi umat Muslim di setiap desa di Merangin untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Tradisi bantai adat ditandai dengan pemotongan ternak kerbau dalam jumlah banyak beberapa hari menjelang puasa.

Jumlah kerbau yang dipotong dalam perhelatan Bantai Adat tersebut di beberapa desa di Kabupaten Merangin bisa mencapai ratusan ekor. Daging kerbau yang dipotong dijual kepada warga dengan harga relatif murah. Seluruh warga desa umumnya mendapatkan daging kerbau, termasuk keluarga kurang mampu.

“Bantai Adat biasanya saat yang ditunggu-tunggu warga desa menjelang Ramadhan. Biasanya Bantai Adat didigelar dua hari menjelang hari pertama Ramadhan. Biasanya para perantau pun banyak yang pulang kampung hanya untuk mengikuti tradisi bantai adat tersebut,”katanya.

Menurut Irwansyah, tradisi Bantai adat ini sangat penting bagi warga desa karena pada kesempatan tersebut terjalin kebersamaan, silaturahmi dan solidaritas segenap lapisan masyarakat desa. Para saudagar membeli kerbau dalam jumlah banyak.

Daging kerbau yang dipotong pada tradisi Bantai Adat tersebut dijual di bawah harga pasar kepada warga. Kemudian ada juga warga yang membeli kerbau secara berkelompok. Mereka memotong dan menjual daging kerbau secara serentak pada acara Bantai Adat.

“Karena harga daging kerbau relatif murah, umumnya warga desa membeli daging kerbau saat acara Bantai Adat ketimbang membeli baju baru untuk Lebaran. Jadi warga lebih mengutamakan ikut berpartisipasi pada acara Bantai Adat daripada adu gengsi kemewahan pakaian pada perayaan Lebaran,” katanya.

Panitia membagi daging pada suatu acara Bantai Adat di Merangin. (Foto : Dok. Matra)

Tetap Lestari

Sementara itu tokoh masyarakat Desa Rantaupanjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Muhammad Fuad mengatakan, tradisi Bantai Adat di kalangan amsyarakat Merangin merupakan tradisi warisan nenek moyang yang hingga kini masih lestari.

“Tradisi leluhur ini tetap lestari karena memiliki nilai-nilai sosial dan religius yang bisa dijadikan bekal iman selama menunaikan ibadah Puasa. Melalui tradisi Bantai Adat ini, warga meningkatkan semangat gotong – royong, saling menolong sebagai perwujudan makna berpuasa,”katanya.

Muhammad Fuad mengatakan, kendala yang sering dialami melaksanakan tradisi Bantai Adat, yakni kesulitan pengadaan kerbau. Terbatasnya jumlah ternak kerbau di setiap desa terpaksa diatasi dengan membeli kerbau dari daerah lain, termasuk dari luar Jambi.

Pembelian kerbau dari liar daerah terpaksa dilakukan karena pada tradisi Bantai Adat harus kerbau yang dipotong, bukan sapi atau kambing. Sementara populasi kerbau di setiap desa cenderung berkurang karena dipotong untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari, Idul Adha dan Idul Fitri.

Bekal Ramadhan

Sementara Gubernur Jambi, Al Haris yang juga mantan Bupati Merangin mengatakan, belakangan ini warga berbagai desa di Merangin yang melaksanakan tradisi Bantai Adat terpaksa mendatangkan kerbau dari kabupaten tetangga dan luar daerah. Pengadaan kerbau tersebut sebagian dibantu pemerintah setempat.

“Salah satu solusi yang kami lakukan mengatasi kekurangan ternak kerbau untuk keperluan pelaksanaan tradisi Bantai Adat mendatang, yakni meningkatkan peternakan kerbau di seluruh desa di Merangin.”paparnya.

Menurut Al Haris, tradisi Bantai Adat di Kabupaten Merangin perlu dilestarikan karena tradisi tersebut menjadi salah satu wadah perekat kebersamaan warga. Ketika tradisi Bantai Adat digelar, seluruh warga masyarakat menyatu dalam kebersamaan tanpa membeda-bedakan kelas sosial.

Pada acara tradisi Bantai Adat tersebut, lanjut Al Haris, tidak sedikit warga yang ekonominya mampu mampu memebil daging kerbau cukup banyak lalu membagikannya kepada warga kurang mampu. Daging kerbau tersebut menjadi bekal selama melaksanakan bulan Ramadhan.

“Semangat kebersamaan dan solidaritas tersebut sangat penting bagi warga memasuki bulan Ramadan. Dengan demikian bulan Ramadan dapat dijalani warga dengan sikap saling menolong dan peduli,” katanya.

Al Haris juga memberikan apresiasi terhadap tradisi Bantai Adat di desa-desa di Kabupaten Merangin karena tradisi tersebut memberi banyak manfaat bagi warga. Selain menjadi ajang silaturahmi dan solidaritras sosial, momen Bantai Adat juga memberikan kegembiraan bagi masyarakat menyambut Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.

“Selain itu, tradisi Bantai Adat di Merangin juga bisa mengendalikan lonjakan harga daging di pasaran selama Ramadhan hingga Idul Fitri. Dengan demikian seluruh warga desa bisa menikmati sajian rendang daging sapi selama Ramadan hingga Idul Fitri,” katanya.

Tarawih Bebas

Selain tradisi Bantai Adat, pelaksanaan tarawih selama blan Ramadhan secara bebas atau tanpa pembatasan juga memberikan rasa gembira kepada warga masyarakat Kabupaten Merangin. Berdasarkan rapat Pemkab Merangin dengan jajaran terkait di Merangin, Selasa (15/3/2022), umat Muslim di Merangin diperbolehkan melakukan salat tarawih berjamaah di setiap masjid dan tempat lain  selama Ramadhan 1443 H.

‘’Untuk salat Tarawih berjemah di masjid-masjid sudah kami rapatkan bersama Satgas Covid-19 Kabupaten Merangin. Hasil rapat itu, memperbolehkan masyarakat melakukan salat Tarawih berjemah di masjid dan tempat lain,’’ujar Bupati Merangin, Mashuri.

Selain itu, lanjut  Mashuri, pada Lebaran/Idul Fitri 1443 H nanti, pihaknya juga memperbolehkan umat Muslim di Kabupaten Merangin melakukan salat Idul Fitri berjamaah di masjid-masjid, mushola-mushola dan di lapangan.

Namun demikian, kata Mashuri, pelaksanaan salat Tarawih dan salat Idul Fitri1443 H berjemaah di masjid-masjid dan mushola-mushola itu harus betul-betul menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19.

‘’Ingat jangan ada yang tidak memakai masker. Para pengurus masjid dan mushola juga harus menyediakan tempat wudhu yang lebih memadai. Usahakan semua jemaah membawa sajadah masing-masing,’’pintanya. (Matra/Radesman Saragih). 

Share this article :

Posting Komentar

Kita Bisa

RAGAM BERITA