. Perayan Waisak 2566 BE di Jambi Khidmat, Candi Muarojambi Dikembangkan Kembali Menjadi Pusat Pendidikan Agama Buddha | MediaLintasSumatera
Home » , , , , » Perayan Waisak 2566 BE di Jambi Khidmat, Candi Muarojambi Dikembangkan Kembali Menjadi Pusat Pendidikan Agama Buddha

Perayan Waisak 2566 BE di Jambi Khidmat, Candi Muarojambi Dikembangkan Kembali Menjadi Pusat Pendidikan Agama Buddha

Written By MediaLintasSumatera on Minggu, 22 Mei 2022 | 15.52

Gubernur Jambi, H Al Haris (delapan dari kanan pakai peci) bersama para biksu dan umat Buddha Jambi pada perayaan Waisak 2566 BE di Candi Kedaton, Kompleks Percandian Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Minggu (22/5/2022). (Foto : Matra/Radesman Saragih).

(Matra, Jambi) – Situs purbakala Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi akan dibangun kembali menjadi pusat pendidikan agama Buddha. Pembangunan Candi Muarojambi menjadi pusat pendidikan agama Buddha tersebut diproyeksikan tidak hanya untuk mencetak para biksu (pendeta) dan cendekiawan Buddha. Pusat pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi nantinya juga akan menjadi daya tarik wisata religi dunia.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Jambi, Dr H Al Haris, SSos, MH pada perayaan Waisak 2566 Budha Era (BE) di Candi Kedaton, Kompleks Percandian Muarojambi, Kabupaten Muarojambi, Minggu (22/5/2022). Perayaan Waisak 2566 BE se-Provinsi Jambi tersebut dihadiri sekitar 2.000 orang umat Buddha di Jambi. 

Turut hadir pada kesempatan tersebut Pembina Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Jambi, Surahmat, Bhiksu Shangha Vihara Wirutama Jakarta, Dharma Vuddho, Ketua Persatuan Umat Buddha Jambi (PUBJ), Rudy Zhang dan Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Provinsi Jambi, Usdi. 

Menurut Al Haris, Pemerintah Pusat (Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi) sudah sepakat mengembangkan Candi Muarojambi menjadi pusat pendidikan agama Buddha mulai tahun ini. Pemerintah Pusat tahun ini sudah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 260 miliar untuk pembangunan tahap pertama pusat pendidikan agama Buddha di komplek percandian terluas di Asia Tenggara tersebut. 

Dijelaskan, total anggaran yang dibutuhkan untuk membangun pusat pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi mencapai Rp 1,5 triliun. Karena itu pembangunan pusat pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi dilaksanakan secara bertahap (multi years). 

“Alokasi anggaran pembangunan pusat pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi tersebut sudah disetujui Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pembangunan pusat pendidikan Buddha di Candi Muarojambi diawali dengan pemugaran candi yang ada saat ini,”katanya.

Al Haris mengatakan, keberadaan Candi Muarojambi yang memiliki luas areal sekitar 3.891 hektare (ha) merupakan salah satu bukti sejarah bahwa Jambi pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha 1.500 tahun silam. Candi Muarojambi menjadi saksi adanya pusat pendidikan Buddha sedunia sejak Abad VII.

“Dulunya cendekiawan dan calon biksu darai berbagai belahan dunia belajar di Candi Muarojambi. Selain itu, cendekiawan dan calon biksu yang belajar agama Buddha di Candi Muarojambi ada juga yang belajar hingga ke India,”katanya. 

Dijelaskan, nantinya akan dibuka kembali lima fakultas pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi. Karena itu umat Buddha di Jambi hendaknya benar-benar lebih menghayati agamanya. Hal ini penting karena tidak ada agama tanpa umatnya. Tidak ada arti Candi Borobudur tanpa Candi Muarojambi. 

Dikatakan demikian karena Candi Muarojambi lebih dulu ada dari Candi Muarojambi. Jadi para cendekiawan dan biksu jebolan pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi yang mengembangkan ajaranBuddha di Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. 

“Saya meminta Majelis/Pendeta Buddha di Jambi bisa bekerja sama dengan Pemeirntah Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Muarojambi dan jajaran terkait memugar Candi Muarojambi demi membangun kembali candi ini menjadi pendidikan agama Buddha,”katanya.

Al Haris mengatakan, saat ini Pemprov Jambi mengembangkan Candi Muarojambi menjadi destinasi wisata andalan berkelas internasional. Para wisatawan akan diberikan kemudahan-kemudahan mengunjungi Candi Muarojambi. Di antaranya penyediaan bus wisata dari Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Kota Jambi ke Candi Muarojambi. 

“Besok, Senin (23/5/2022), kami akan launching (meluncurkan) dua unit bus wisata  yang melayani rute Bandara STS Kota Jambi – Candi Muarojambi dengan jarak sekitar 30 Kilometer (Km). Setiap wisatawan yang menumpang bus tersebut gratis,”katanya. 
Para biksu diikuti ribuan umat Buddha melakukan prosesi (ritual) paradaksina (mengelilingi candi) pada perayaan Waisak 2566 BE di Candi Kedaton, Kompleks Percandian Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Minggu (22/5/2022). (Foto : Matra/Radesman Saragih).

Khidmat 

Sementara itu, perayaan Waisak 2566 BE di Candi Kedaton, kompleks Candi Muarojambi, Minggu (22/5/2022) pagi hingga siang berlangsung khidmat, tertib dan aman. Sekitar 2.000 orang umat Buddha di Jambi antusias mengikuti seluruh rangkaian acara ibadah Waisak tersebut. Mulai dari acara paradaksina atau mengelilingi Candi Kedaton hingga pelaksanaan ibadah di dalam areal Candi Kedaton. 

Perayaan Waisak 2566 BE di Candi Kedaton tersebut menerapkan protokol kesehatan (prokes). Seluruh peserta wajib menjalani pemeriksaan suhu tubuh di pintu gerbang lokasi perayaan Waisak. Kemudian seluruh umat dan pendeta yang hadir pada perayaan Waisak tersebut juga memakai masker. 

Tampil sebagai pemberi renungan atau khutbah pada kesempatan tersebut, Biksu Shangha Vihara Wirutama Jakarta, Dharma Vuddho. Menurut Bhiksu (Bhante) Dharma Vuddho, perayaan Waisak 2566 BE secara tatap muka dengan mengundang banyak umat di Candi Muarojambi merupakan yang kedua dilaksanakan di Indonesia di tengah meredanya pandemi Covid-19. Sebelumnya sudah digelar peraywaan Waisak 2566 BE secara tatap muka di Candi Borobudur, Jawa Tengah, Senin (16/5/2022). 

Dikatakan, perayaan Waisak 2566 BE tahun ini menetapkan tema “Moderasi Antaragama untuk Membangun Kedamaian Demi Persatuan dan Pembangunan Indonesia”. Untuk mencapai hal tersebut, umat Buddha di Indonesia diminta melaksanakan enam sikap dan perilaki bijak. 

Keenam sikap tersebut, berbicara dengan cinta kasaih, sesuai perkataan di hadapan dan di belakang sesame atau saudara. Kemudian bertingkah laku sopan, berpikiran penuh cinta kasih, saling berbagi, bersatu dalam oralitas dan memiliki pandangan maupun pengetahuan yang sama. 

“Salah satu membuktikan rasa cinta kasih dan persatuan di tengah pandemi Covid-19 ini, yakni memberi atau berbagi kepada orang – orang yang membutuhkan. Berbagi pada masa pendemi ini menjadi momentum berbagi secara tepat, yakni benar-benar menolong orang terdampak Covid-19 yang membutuhkan pertolongan,”katanya. (Matra/Radesman Saragih). 

Share this article :

Posting Komentar

Kita Bisa

RAGAM BERITA