. Umat Buddha di Jambi Kembali Rayakan Waisak di Candi Muarojambi, Dua Tahun Terhenti Akibat Covid-19 | MediaLintasSumatera
Home » , , , , , » Umat Buddha di Jambi Kembali Rayakan Waisak di Candi Muarojambi, Dua Tahun Terhenti Akibat Covid-19

Umat Buddha di Jambi Kembali Rayakan Waisak di Candi Muarojambi, Dua Tahun Terhenti Akibat Covid-19

Written By MediaLintasSumatera on Senin, 16 Mei 2022 | 13.02


Wali Kota Jambi, H Syarif Fasha (kanan) menghadiri perayan Waisak 2563/BE/2019 atau sebelum pandemi Covid-19 di Candi Muarojambi, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi. (Foto : Matra/Dok.KominfoKotaJambi). 

(Matra, Jambi) – Umat Buddha di Provinsi Jambi kembali menggelar perayaan Waisak secara meriah di Situs Purbakala Candi Muarojambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi menyusul relaksasi kelonggaran) perayaan kegiatan keagamaan yang diberlakukan pemerintah saat ini. 

Perayaan Waisak 2566 Buddhist Era (BE)/2022 di Candi Muarojambi, sekitar 30Km dari Kota Jambi akan digelar Minggu (22/5/2022). Sedikitnya 500 orang umat Buddha di Provinsi Jambi diperkirakan akan menghadiri perayaan Waisak tersebut. Perayaan Waisak di Candi Muarojambi terhenti 2020 dan 2021 akibat pandemi Covid-19.

“Umat Buddha dari seluruh vihara di Jambi kembali menggelar perayaan Waisak secara meriah di Candi Muarojambi karena situasi Covid-19 sudah mereda dan pemerintah telah mengizinkan pelaksanaan kegiatan keagamaan lebih bebas. Kami berharap seluruh umat Buddha di Jambi bisa menghadiri perayaan Waisak 2566 BE di Candi Muarojambi tersebut,”kata Sekretaris Yayasan Caka Maha Jaya Vihara Sakyakirti Kota Jambi, Erwan kepada MediaLintasSumatera.com (Matra) di sela-sela ibadah perayaan Waisak 2566 BE di Vihara Sakyakirti, Kota Jambi, Senin (16/5/2022).

Menurut Erwan, perayaan Waisak 2566 BE di Candi Muarojambi diharapkan bisa kembali merajut kebersamaan dan persaudaraan seluruh umat Buddha di Provinsi jambi. Melalui perayaan Waisak di Candi Muarojambi tersebut, seluruh umat Buddha dan para pendeta Buddha bisa bertemu bersama setelah dua tahun tidak bisa bertemu akibat Covid-19.

Dikatakan, karena situasi masih terbatas, pihaknya tidak mengundang umat Buddha dari luar Jambi pada perayaan Waisak di Candi Muarojambi seperti sebelum pandemi Covid-19. Perayaan Waisak di Candi Muarojambi tahun ini difokuskan untuk umat Buddha se-Provinsi Jambi.

Erwan mengatakan, untuk membantu transportasi umat Buddha dan tamu ke Candi Muarojambi, pihaknya menyediakan beberapa bus dan puluhan mobil pribadi. Keberangkatan dipusatkan di Vihara Sakyakirti, Jalan Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Jelutung, Kota Jambi, Minggu (22/5/2022) pagi mulai pukul 06.00 WIB.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Umat Buddha Jambi (PUBJ), Rudy Zhang mengatakan, pihaknya sudah memperiapkan secvara matang pelaksanaan perayaan Waisak 2566 BE/2022 di Candi Muarojambi. Persiapan tersebut mulai dari pengurusan izin pihak keamanan, pemerintah daerah hingga izin Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

“Persiapan secara admisitrasi perayaan Waisak 2566 BE di Candi Muarojambi telah selesai. Kami sudah mendapat izin dari Balai Cagar Budaya, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta aparat keamanan dari TNI dan Polri di Jambi. Jadi kami hanya mempersiapkan rangkaian acara atau ibadah,”katanya. 

Dijelaskan, tamu undangan yang akan menghadiri perayan Waisak 2566 BE di Candi Muarojambi tersebut ada yang berasal dari Thailand, yakni para pendeta Buddha dan daerah lain. Namun undangan umum tidak ada karena peserta atau hadirian pada perayaan Waisak tersebut dibatasi maksimal 1.000 orang. 

“Sebelum pandemi Covid-19, peserta perayaan Waisak di Candi Muarojambi bisa mencapai 5.000 orang umat Buddha. Mereka datang dari Sumatera Selatan, Lampung, Sumut, Riau, Kepulauan Riau dan berbagai daerah di Jawa,”katanya.

Menurut Rudy Zhang, untuk perayaan Waisak di Candi Muarojambi tersebut, air suci tidak diambil dari Gunung Tujuh Kerinci, sekitar 12 jam perjalanan dari Kota Jambi karena masih situasi pandemi Covid-19. Air suci pada perayaan Waisak di Candi Muarojambi diambil dari mata air yang ada di Candi Kedaton, Kompleks Candi Muarojambi. Kemudian  api abadi diambil dari sumber api pengeboran minyak dan gas (migas) Sungaigelam, Kabupaten Muarojambi.

Candi Muarojambi sejak 2010 silam dijadikan pusat perayaan hari raya kegamaan umat Buddha, Waisak karena candi di tepian Sungai Batanghari tersebut merupakan bekas pusat pendidikan Agama Buddha tahun ketujuh masehi. 

Kompleks Candi Muarojambi yang memiliki luas sekitar luas 3.891 hektare (Ha) merupakan  pusat pendidikan Buddha tertua di Asia Tenggara. Hal tersebut terbukti dari tulisan seorang biksu Buddha, I Tsing yang melakukan perjalanan menuju Nalanda (pusat pembelajaran agama Buddha) di India. 

I Tsing yang sempat singgah di Melayu, yaitu Jambi pernah ikut belajar di kompleks Candi Muarojambi untuk memperdalam bahasa Sansekerta, sebelum dia menimba ilmu di Nalanda. Hingga kini, Candi Muarojambi sering disinggahi para biksu Buddha dari berbagai negara. (Matra/Radesman Saragih).
Tema persaudaraan Waisak 2566 BE/2022. (Foto : Matra/Radesman Saragih).
Share this article :

Posting Komentar

Kita Bisa

RAGAM BERITA