. Petani Sarolangun Berhasil Kembangkan Pengolahan Garam Mata Air Pegunungan | MediaLintasSumatera
Home » , , , , , , , , » Petani Sarolangun Berhasil Kembangkan Pengolahan Garam Mata Air Pegunungan

Petani Sarolangun Berhasil Kembangkan Pengolahan Garam Mata Air Pegunungan

Written By MediaLintasSumatera on Sabtu, 04 Juni 2022 | 14.15

Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial  Desa Sungai Keradak, Sarolangun, Hendra Komaini (tiga dari kanan) bersama anggotanya menunjukkan produk garam “Gunung TJ” Sarolangun di arena pameran produk usaha perhutanan sosial di lapangan kantor Gubernur Jambi, Sabtu (4/6/2022). (Foto : Matra/Radesman Saragih). 

(Matra, Jambi) – “Pepatah asam di gunung garam di laut” yang melambangkan perjodohan dua sejoli tampaknya tidak berlaku bagi para petani Desa Sungai Keradak, Kecamatan Batangasai, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Pasalnya para petani desa tersebut tidak mendapatkan garam yang diolah dari air laut. Mereka justru mendapatkan garam yang diolah dari sumber mata air pegunungan. 

Sumber air pegunungan yang menjadi bahan pengolahan garam yang diusahakan para petani berasal dari Air Inom, Desa Sungai Keradak, Kecamatan Batangasai, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. 

Para petani mengolah sumber mata air pegunungan sebagai salah satu usaha pemanfaatan sumber daya hutan tanpa merusak lingkungan hidup. Usaha tersebut dikembangkan melalui program usaha perhutanan sosial. 

KetuaKelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Gunung Garam Inom Desa Sungai Keradak, Sarolangun, Aswan melalui wakilnya, Hendra Komaini (33) di sela-sela pameran produk usaha perhutanan sosial di lapangan kantor Gubernur Jambi, Sabtu (4/6/2022) menjelaskan,  petani desa tersebut mengembangkan usaha pengolahan garam yang bersumber dari mata air pegunungan tersebut beberapa tahun terakhir

Dikatakan, kelompok usaha perhutanan sosial Desa Sungai Keradak mengembangkan usaha pengolahan garam dari mata air pegunungan ini sebagai bagian dari pengembangan perhutanan sosial. Kelompok usaha mereka mendapat dukungan dukungan lembaga lingkungan hidup Jerman, Jepang, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Limau Unit 7 Hulu, Sarolangun dan Balai Perhutanan Sosial dan Kelestarian Lingkungan Hidup (BPSKL). 

Kepala KPHP Unit 7 Hulu, Arbain, ST dan para pengurus BPKSKL juga secara intensif memberikan pembinaan dan pelatihan terhadap usaha-usaha perhutanan sosial di desa tersebut.  

“Selain itu kelompok usaha perhutanan sosial desa kami juga mendapat pembinaan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jambi dan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi,”katanya. 
Mata Air Inom, Desa Sungai Keradak, Kecamatan Batangasai yang menjadi sumber pengolahan garam gunung di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Gambar diambil baru-baru ini. (Foto : Matra/KUPSSgKeradak).
 
Menurut Hendra Komaini, anggota Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Garam Gunung Inom Desa Sungai kini sebanyak 15 orang. Kelompok usaha perhutanan sosial tersebut sudah bisa mengolah garam dari mata air pegunungan Desa Keradak rata-rata 10 kilogram (Kg)/hari. 

“Untuk sementara, pamasaran produk garam kami ini baru sebatas tingkat lokal. Kami sudah membuat kemasan dan merk dagang Garam TJ, garam perbukitan Desa Sungai Keradak. Setiap kemasan berisi 200 gram dengan harga Rp 20.000/unit atau bungkus. Pemasaran garam produk Desa Keradak ini ke luar terbentur akibat pandemi Covid-19 dua tahun terakhir,”katanya. 

Menurut Hendra Komaini, pihaknya melayani penjualan garam tersebut secara online. Konsumen yang tertarik membeli garam yang bersumber dari mata air pegunungan Batangasai, Sarolangun itu bisa memesan ke nomor kontak (WA) 085347553833 atas nama Hendra Komaini.

“Untuk mempermudah pemasaran garam gunung Sarolangun ini, kami sekarang sedang mengurus izin kesehatan dari dinas kesehatan dan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Jambi. Kemudian kami juga sedang mengurus label halal,”ujarnya. 

Hendra Komaini mengatakan, selain KUPS Desa Keradak, Kecamatan Batangasai, Kabupaten Sarolangun yang memproduksi garam, masih ada KUPS di Sarolangun yang mengembangkan usaha kerajinan lain yang bersumber dari hasil hutan bukan kayu. Di antaranya, madu hutan, kopi gunung, minyak urut dari serai wangi, keripik pakis dan tusuk sate dari bambo.

KUPS Desa Meribung, Kecamatan Limun yang dipimpin Hamid  Datuk Pangulu misalnya memproduksi tusuk sate. Sedangkan KUPS Desa Lubuk Bedorong, Kecamatan Limun yang dipimpin Muksin memproduksi kerajinan bambu dan keripik pakis. Kerajinan yang memanfaatkan bahan baku bambu di antaranya miniatur kapal layar, bubu (perangkap ikan) dan berbagai cendera mata berbahan bambu.   

Sedangkan KUPS Desa Batu Empang dan Desa Tambak Ratu, Kecamatan Batangasai  memproduksi minyak urut. Kemudian KUPS Desa Mersip, Kecamatan Limun memproduksi madu. 

"Untuk warga Jambi yang ingin melihat produk-produk kerajinan kelompok usaha perhutanan sosial kami ini bisa datang ke pameraan produk perhutanan sosial di lapangan kantor Gubernur Jambi, Sabtu– Minggu (4 -5/6/2022),”katanya.
Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial  Desa Sungai Keradak, Sarolangun, Hendra Komaini (kanan)  dan perajin menunjukkan produk kerjaninan kapal berbahan bambu di arena pameran produk usaha perhutanan sosial di lapangan kantor Gubernur Jambi, Sabtu (4/6/2022). (Foto : Matra/Radesman Saragih). 

Nilo Kopi Merangin

Sementara itu, Koordinator Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Rio Kemuyang, Desa Durian Rambun, Kecamatan Muarasiau, Kabupaten Merangin, Maskur (25) di arena pameran produk perhutanan sosial di lapangan Gubernur Jambi, Sabtu (4/6/2022) mengatakan, kelompok usaha perhutanan sosial di desa mereka juga berhasil mengembangkan usaha ekonomi produktif. 

Kelompok usaha perhutanan desa tersebut kini berhasil memproduksi kopi dengan merk “Nilo Kopi”. Jumlah anggota LPHD Desa Durian Rambun kini sudah ada 27 orang. Produk kopi hasil olahan mereka sudah diolah dengan kemasan yang bagus. Penggemar kopi yang ingin menikmati produk "Nila Kopi" bisa memesan langsung kepada koordinator pemasaran, Maskur melalui nomor kontak (WA) 082307255262.

“Pemasaran kopi produk usaha perhutanan sosial desa kami kini tidak hanya di Merangin, tetapi juga sudah menembus pasar di Kota Jambi dan beberapa daerah lain di Jambi. Kami ingin mengembangkan pemasaran produk kopi merk Nila Kopi ini hingga di tingkat nasional dan bahkan tingkat internasional,”katanya.

Dijelaskan, keberhasilan kelompok usaha perhutanan sosial Desa Durian Rambun, Merangin memproduksi kopi gunung tak terlepas dari bantuan, pembinaan dan dukungan Balai Perhutanan Sosial dan Kelestarian Lingkungan Hidup (BPSKL) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan Walhi Jambi dan KKI Warsi Jambi. 

Sementara itu pantauan medialintassuamtera.com (Matra) di lokasi pameran produk kelompok usaha perhutanan sosial di lapangan kantor Gubernur Jambi, Sabtu (4/6/2022), sedikitnya ada 20 stand (lapak) kelompok usaha perhutanan sosial yang mengikuti pameran tersebut. 

Kelompok usaha perhutanan yang mengikuti pameran tersebut berasal dari Kabupaten Sarolangun, Merangin, Tebo, Kerinci, Bungo dan berbagai lembaga pelestarian lingkungan hidup. Produk-produk hasil usaha perhutanan yang dipamekan di arena pameran tersebut, yakni kopi, madu, hasil kerajinan dan produk pertanian di sekitar hutan. (Matra/Radesman Saragih).
Koordinator Lembaga Pengelola Hutan Desa Durian Rambun, Kecamatan Muarasiau, Kabupaten Merangin, Maskur memamerkan produk “Nilo Kopi” di arena pameran produk usaha perhutanan sosial di lapangan kantor Gubernur Jambi, Sabtu (4/6/2022). (Foto : Matra/Radesman Saragih).

Share this article :

Posting Komentar

Kita Bisa

RAGAM BERITA